Mengapa Iri Muncul Saat Melihat Orang Lain Lebih Baik? Penjelasan Ilmiah dan Cara Mengatasinya

Pernah merasa tidak suka saat melihat orang lain lebih sukses? Itu adalah hal manusiawi. Pahami penjelasan ilmiah di balik rasa iri dan temukan cara "treatment" mental yang sehat untuk mengatasinya.

Kita semua pernah merasakannya. Saat melihat seorang rekan kerja mendapat promosi, teman memamerkan pencapaian baru di media sosial, atau bahkan kerabat yang tampak memiliki kehidupan "sempurna". Alih-alih turut bahagia, muncul perasaan tidak nyaman, sesak di dada, atau bahkan pikiran negatif.

Perasaan ini seringkali dilabeli sebagai "iri" atau "dengki", dan dianggap sebagai sifat buruk. Namun, tahukah Anda bahwa ada penjelasan ilmiah di balik mengapa kita tidak suka melihat orang lain lebih baik dari diri kita?

Ini bukanlah murni soal karakter yang buruk, melainkan respons psikologis kompleks yang tertanam dalam diri manusia. Artikel ini akan mengupas tuntas penjelasan ilmiah di baliknya dan "treatment" mental yang bisa dilakukan.


Sisi Ilmiah: Kenapa Kita Iri Saat Orang Lain Lebih Baik?

Rasa tidak nyaman itu bukanlah sebuah kebetulan. Otak kita terprogram untuk memproses informasi sosial dengan cara tertentu. Berikut adalah beberapa alasan ilmiah utamanya:

1. Teori Perbandingan Sosial (Social Comparison Theory)

Ini adalah biang keladi terbesarnya. Psikolog Leon Festinger pada tahun 1954 memperkenalkan teori ini. Ia menyatakan bahwa manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengevaluasi pendapat dan kemampuan mereka dengan cara membandingkan diri mereka dengan orang lain.

Ada dua jenis perbandingan:

  • Perbandingan ke Bawah (Downward Comparison): Membandingkan diri dengan orang yang "di bawah" kita. Ini membuat kita merasa lebih baik, superior, dan meningkatkan harga diri.
  • Perbandingan ke Atas (Upward Comparison): Membandingkan diri dengan orang yang "di atas" atau lebih baik dari kita. Di sinilah masalah muncul. Perbandingan ini bisa memicu dua hal: inspirasi ("Saya ingin seperti dia") atau iri hati ("Saya benci dia memiliki itu").

Rasa tidak suka muncul ketika kita melihat kesuksesan orang lain sebagai bukti kekurangan diri kita sendiri.

2. Ancaman terhadap Harga Diri (Self-Esteem Threat)

Kesuksesan orang lain, terutama jika orang tersebut memiliki kesamaan dengan kita (misalnya, usia yang sama, latar belakang yang sama, atau bekerja di bidang yang sama), dapat terasa seperti ancaman langsung terhadap harga diri (self-esteem) kita.

Otak kita memprosesnya sebagai: "Jika dia bisa sukses dan saya tidak, itu berarti saya tidak cukup baik." Ini adalah pukulan bagi ego dan konsep diri kita, yang secara otomatis memicu respons defensif berupa rasa tidak suka atau iri.

3. Iri Hati Jinak vs. Iri Hati Jahat (Benign vs. Malicious Envy)

Penelitian membedakan dua jenis iri:

  • Iri Hati Jinak (Benign Envy): Ini adalah rasa iri yang memotivasi. Anda melihat kesuksesan orang lain dan berpikir, "Saya juga ingin itu. Saya harus bekerja lebih keras." Ini fokus pada objek/pencapaian yang diinginkan.
  • Iri Hati Jahat (Malicious Envy): Ini adalah rasa iri yang merusak. Anda berpikir, "Tidak adil dia mendapatkannya. Saya harap dia gagal." Ini fokus pada orangnya dan berharap orang tersebut kehilangan keunggulannya.

Rasa "tidak suka" yang Anda rasakan adalah sinyal bahwa Anda mungkin sedang tergelincir ke arah malicious envy.

4. Pola Pikir Tetap (Fixed Mindset)

Menurut psikolog Carol Dweck, orang dengan Pola Pikir Tetap (Fixed Mindset) percaya bahwa kecerdasan dan bakat adalah sesuatu yang statis Anda terlahir dengan itu atau tidak.

Ketika mereka melihat orang lain sukses, mereka melihatnya sebagai bukti bahwa orang itu "terlahir beruntung" atau "lebih berbakat". Karena mereka merasa tidak memiliki bakat itu, mereka merasa putus asa, terancam, dan akhirnya iri. Sebaliknya, Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset) melihat kesuksesan sebagai hasil usaha, yang lebih mudah memicu inspirasi.


"Treatment" Mental: Cara Sehat Mengatasi Rasa Iri

Perasaan iri itu wajar, tetapi membiarkannya menguasai hidup akan merusak kebahagiaan dan hubungan Anda. Kabar baiknya, perasaan ini bisa dikelola. Berikut adalah langkah-langkah "treatment" atau strategi mental yang bisa Anda terapkan:

1. Akui Tanpa Menghakimi (Acknowledge, Don't Judge)

Langkah pertama adalah kesadaran diri. Ketika perasaan itu muncul, jangan langsung menolaknya atau merasa bersalah.

  • Alih-alih: "Saya orang yang jahat karena iri."
  • Katakan: "Saya sedang merasakan iri saat melihat kesuksesan X. Ini adalah perasaan yang tidak nyaman, tapi ini hanya perasaan."

Mengakui emosi akan mengurangi kekuatannya atas diri Anda.

2. Identifikasi Akar Masalahnya

Tanyakan pada diri Anda: "Apa sebenarnya yang membuat saya iri?"

Seringkali, rasa iri adalah penanda dari apa yang sebenarnya Anda inginkan dalam hidup atau area di mana Anda merasa kurang.

  • Iri dengan promosi rekan kerja? Mungkin Anda merasa tidak dihargai atau karier Anda mandek.
  • Iri dengan liburan teman? Mungkin Anda sangat butuh istirahat dan rekreasi.
  • Gunakan iri sebagai kompas untuk memahami kebutuhan Anda yang belum terpenuhi.

3. Ubah Iri Menjadi Inspirasi (Shift to Benign Envy)

Ini adalah kunci utamanya. Latihlah otak Anda untuk beralih dari malicious envy ke benign envy.

  • Tanya pada diri sendiri: "Apa yang bisa saya pelajari dari orang ini?"
  • "Langkah konkret apa yang dia ambil untuk sampai di sana?"
  • "Bagaimana saya bisa menerapkan etos kerja atau strategi mereka dalam hidup saya?"
  • Alihkan fokus dari siapa orang itu menjadi bagaimana prosesnya.

4. Terapkan Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset)

Ingatkan diri Anda bahwa kesuksesan bukanlah "kue" yang terbatas. Kesuksesan orang lain tidak mengurangi jatah kesuksesan Anda.

  • Percayalah bahwa kemampuan Anda bisa dikembangkan melalui usaha, dedikasi, dan pembelajaran.
  • Lihat pencapaian orang lain sebagai bukti bahwa hal itu memungkinkan (possible), bukan sebagai bukti bahwa Anda tertinggal.

5. Fokus pada "Rumput Sendiri" (Practice Gratitude)

Perbandingan sosial sering terjadi karena kita lupa dengan apa yang kita miliki. Cara terbaik untuk melawannya adalah dengan rasa syukur (gratitude).

  • Setiap hari, luangkan waktu untuk mencatat 3 hal yang Anda syukuri.
  • Alihkan fokus dari apa yang tidak Anda miliki ke apa yang sudah Anda capai.
  • Bandingkan diri Anda hanya dengan diri Anda di masa lalu, bukan dengan orang lain di masa kini.

6. Batasi Pemicu (Limit Your Triggers)

Jika media sosial adalah sumber utama rasa iri Anda, tidak ada salahnya untuk detoks digital.

  • Unfollow akun-akun yang secara konsisten membuat Anda merasa buruk tentang diri sendiri.
  • Ingatlah bahwa media sosial adalah highlight reel panggung depan yang sudah dikurasi. Anda tidak melihat perjuangan atau kegagalan di baliknya.


Merasa tidak suka saat melihat orang lain lebih baik bukanlah tanda bahwa Anda adalah orang yang gagal atau jahat. Itu adalah respons manusiawi yang kompleks, berakar pada teori perbandingan sosial dan kebutuhan kita akan harga diri.

Kuncinya bukanlah menghilangkan perasaan itu sepenuhnya, tetapi mengubah respons Anda terhadapnya. Jangan biarkan iri mendefinisikan Anda. Gunakan itu sebagai bahan bakar, sebagai kompas, dan sebagai pengingat untuk fokus merawat dan menumbuhkan "rumput" di halaman Anda sendiri.

Baca Juga
Tag:
Postingan Terbaru
  • Mengapa Iri Muncul Saat Melihat Orang Lain Lebih Baik? Penjelasan Ilmiah dan Cara Mengatasinya
  • Mengapa Iri Muncul Saat Melihat Orang Lain Lebih Baik? Penjelasan Ilmiah dan Cara Mengatasinya
  • Mengapa Iri Muncul Saat Melihat Orang Lain Lebih Baik? Penjelasan Ilmiah dan Cara Mengatasinya
  • Mengapa Iri Muncul Saat Melihat Orang Lain Lebih Baik? Penjelasan Ilmiah dan Cara Mengatasinya
  • Mengapa Iri Muncul Saat Melihat Orang Lain Lebih Baik? Penjelasan Ilmiah dan Cara Mengatasinya
  • Mengapa Iri Muncul Saat Melihat Orang Lain Lebih Baik? Penjelasan Ilmiah dan Cara Mengatasinya
Posting Komentar